Siapa itu Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan Hubungannya dengan Perdukunan di Indonesia

Selamat Siang….
Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Siapa yang tidak kenal dengan beliau. Sejak pertengahan september lalu telah menjadi viral di Indonesia. Taat Pribadi itulah aslinya namanya.Taat Pribadi pengasuh sekaligus pemilik Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo merupakan anak dari pensiunan polisi.
Taat Pribadi, tersangka kasus dugaan keterlibatan pembunuhan dua orang mantan pengikutnya dan penipuaan itu merupakan anak dari Mantan Kapolres setempat.
Lanjutnya sang ayah pernah menduduki jabatan strategis di wilayah hukum Polres Probolinggo.
Informasinya, sang ayah sempat menjabat sebagai Kapolsek Maron, Pakuniran, dan Gading di tahun 1985 – 1990.
menurut informasi yang beredar ayah Taat Pribadi itu sangat dikenal baik oleh masyarakat.
Dedikasinya terhadap pekerjaan dan bertugas sebagai pengayom masyarakat itu diembannya secara baik.
Informasi lain menyebutkan bahwa Taat Pribadi ini menolak mengikuti jejak sang ayah berkarir di dunia kepolisian.
Sewaktu muda, Taat Pribadi lebih cenderung mendalami ilmu agama Islam dan syariahnya.
Ia sempat merantau ke beberapa daerah untuk menuntut ilmu ke sejumlah guru dan ulama.
Selanjutnya ia mendirikan padepokan yang bernama dirinya yaitu ” Padepokan Dimas Kanjeng taat Pribadi”.
Bagi sebagian pengikutnya Taat Pribadi merupakan sosok yang dapat menggandakan uang. Banyak video viral di internet beliau sedang mengeluarkan uang dari karung dan dari balik tubuhnya. Namun sebagian berpendapat itu merupakan ilusi mata kita yang seolah olah Taat Pribadi dapat menggandakan uang. Praktik ini sebagian berpendapat merupakan praktik Perdukunan.
Dukun,apa yang anda pikirkan tentang arti kata tersebut setelah mendengarnya,mungkin sebagian banyak orang jika sudah mendengar kata tersebut berhubungan dengan hal-hal ghaib atau  negatif, yang sebenarnya itu bertentangan dengan agama. Sebenarnya definisi dari perdukunan adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi seperti mantra, guna-guna, dan lain sebagainya dengan bantuan jin. Perdukunan sangat kental dengan tradisi kebudayaan Jawa sebagai penolong orang sakit atau tabib, perantara dunia nyata dengan dunia gaib, dan juga dipakai sebagai simbol adat pada setiap upacara tradisional.
Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia.  Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar yang kuat dalam sejarah bangsa,bahkan dukun dan politik seperti simbiosis mutualisme, dimana keduanya saling membutuhkan.
Dijaman globalisasi seperti ini,politik untuk merebut kekuasaan duniawi seperti uang selalu ditopang dengan kekuatan magis.karena menurut mereka jika tidak ditopang dengan kekuatan magis,mereka tidak dapat memenangkan apa yang mereka perebutkan. Termasuk dengan orang yang dapat menggandakan uang.
Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwarisi oleh anak-anak bangsa, hingga saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern. Pada akhirnya kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas bahkan mau menyerahkan apa saja demi kepentingannya tercapai.
Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional.Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi penanda bagi yang lainnya.
Padahal, di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas dan pasti, bahwa hanya Allah l yang mengetahui yang ghaib, adapun selain-Nya tidak.
Allah berfirman:“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)
Dari semua hal yang telah dibahas dan diuraikan dalam Al-Quran semoga kita semua tidak terjerumus kedalam hal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *