Belajar Bersyukur Dari Ibu Penjual Bubur Ayam

Senin, 30 Oktober 2017

Banyak orang menyangka, keberhasilan seseorang berdasarkan DIMANA kamu bekerja, BERAPA GAJI yang kamu dapatkan, Serta SUDAH MEMPUNYAI apa dari hasil kamu bekerja. Kata- kata diatas sering kita dengarkan apabila kita bertemu dengan seorang sahabat lama (Sebut saja teman KULIAH, teman SMA, teman SMP dan teman SD). Pastinya jika kita ditanya hal-hal diatas sangatlah jengkel dan kesal. Ibarat di Jepang menanyakan umur seseorang dianggap tabu dan tidak etis. Sama halnya di Indonesia, pertanyaan pertanyaan seperti itu rasanya sudah harus dihilangkan apabila kita bertemu sahabat lama.

Sore hari setelah saya pulang dari kerja, Saya melihat tukang bubur pangkalan di jalan yang saya lewati. jalan tersebut berada di daerah Pekayon Bekasi Selatan. Karena saya melihat tukang bubur tersebut berkenaan dengan Adzan Maghrib, saya melanjutkan dulu untuk menunaikan sholat maghrib. Setelah melakukan ibadah sholat maghrib, saya menuju tempat tukang bubur pangkalan tersebut. Agak sedikit kaget saya melihatnya, ternyata tukang bubur nya adalah seorang Ibu-Ibu(karena selama ini yang saya lihat tukang bubur dijual oleh seorang kaum pria). Segera saya melakukan pemesanan bubur ayam tanpa sambal dan tanpa sate.  Setelah memproses 2 pesanan orang lain, akhirnya pesanan saya diproses. Selama proses pesanannya tersebut, saya bertanya-tanya dari mulai topik yang ringan. Lebih lanjut simak percakapan saya dibawah :

*Ibu Tukang Bubur : Ibu TB

Saya : Bu dagang dari jam berapa disini?

Ibu TB:  Dari sehabis Ashar mas.

Saya : Ohh, emang biasanya sampe jam berapa ibu dagangnya?

Ibu TB : Sebentar lagi palingan saya udahan nih.

Saya : Kok dagangnya sebentar banget bu

Ibu TB : Iya mau abis juga nih mas, saya juga dagang pagi-pagi mas, tapi tempatnya disana (sambil menunjuk tempat nya)

Saya : oooh alhamdulillah yaa bu

 

Setelah itu ibunya memberikan pesananan bubur ayam yang saya pesan. Sambil saya makan bubur ayam ini, saya bertanya-tanya kembali. Dari mulai bisa ngejual berapa mangkok, bisa nutup kehidupan sehari-hari ngga, dan lain lainnya. Dari pernyataan ibu ini saya mendapatkan jawaban, Dia setiap harinya gak menentu dapat menjual berapa mangkok bubur. Apalagi saat tiba-tiba hujan datang, dapat menjual 10 mangkok pun sudah bersyukur. Menurutnya tidak jadi masalah berapa mangkok bubur yang dapat dijual, yang lebih lagi adalah harus disyukuri yang sudah didapat dan jangan mengeluh. Menurutnya mengeluhpun gak ada gunanya, malah mengeluh  bikin perasaan gak enak dan hati gak tenang, Lebih baik menerima dan bersyukur saja apa yang sudah diberikan kepada kita. Setelah saya menyelesaikan makan bubur nya saya bergegas untuk membayar dan segera menuju pulang kerumah.

Kalau saya merunut kehidupan Ibu TB ini, saya tidak bisa membayangkan ada berada diposisi beliau yang mempunyai penghasilan tidak menentu, yang harus bekerja 2 kali, yaitu pagi dan sore belum lagi menyiapkan untuk dagangannya bisa-bisa 1 hari full Ibu TB bekerja. Ada hal yang didapat dari Ibu TB, yaitu pentingnya arti BERSYUKUR dan PANTANG MENGELUH. 2 kata ini menjadi bukti dahsyat dan supernya untuk menjalani kehidupan yang dihadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *